Mungkinkah Meminta Tanpa Berkata?

Standar

Janganlah engkau menuntut Tuhanmu karena Dia Menunda memberikan pintamu. Tetapi tuntutlah dirimu karena terlambat menjalankan perintah-Nya.” (Ibnu ‘Athaillâh al-Sakandary)

Doa adalah kata yang paling tepat, dalam terminologi agama (Islam), untuk menggantikan terma “meminta” kepada Allah. Di mana doa adalah juga sebuah perintah atau imperatif. Dalam bahasa Arab, perintah (amar) lazimnya berangkat dari atasan (al-a’lâ) kepada bawahan (al-adnâ). 

Sementara doa berbeda. Doa jelas sebuah permintaan dari hamba (al-adnâ) kepada Tuhannya (al-A’lâ). Karenanya, permintaan itu tidak disebut “perintah (amar)” melainkan “doa/ad-du’â”. Itu adalah adab berbahasa. Sehingga substansi “permintaan” dalam bahasa Arab memiliki demarkasi (pembeda) antara meminta kepada bawahan (al-adnâ) dan sesama/sederajat (al-musâwah) dengan meminta kepada Allah SWT (al-A’lâ).

Berbicara tentang permintaah makhluk-makhluk Allah, Iblis adalah makhluk yang pertama kali harus tereliminasi dari naungan Allah SWT. Surga yang menjadi tempat singgahnya harus rela ditinggalkan karena kesalahannya yang “cukup fenomenal”.

Apa pasal? Iblis tidak mau menyembah Nabiyullâh, Adam AS yang juga makhluk ciptaan Allah SWT. Tahukah, bahwa ketika itu iblis sebenarnya sudah “berijtihad”. Namun, ijtihad iblis nampaknya kurang tepat, atau salah. Iblis ketika itu “berijtihad” dan kemudian berkesimpulan bahwa, “Api lebih baik dari tanah.” Dan karenanya, ia enggan bersujud kepada Adam AS, karena merasa lebih mulia (QS. al-A’râf [7]: 12).

Iblis memang tercipta dari api (nâr), sementara Adam AS dari tanah (thîn). Akhirnya iblis mendapat ganjaran berupa kemurkaan Allah. Iblis memang menerima keputusan Allahm namun ibkis juga mengajukan 1 permintaan kepada Allah. Ia bersedia dikeluarkan dari surga, tapi diberi wewenang untuk menyesatkan anak Adam AS dari jalan kebenaran. Itulah, permintaan iblis. Ia meminta dengan kata-kata.

Kemudian ada kisah dari Nabi Adam AS. Sudah masyhur bahwa Adam AS bersama istrinya, Siti Hawa, “terusir” dari surga karena menyantap buah Khuldi. Itu terjadi setelah bujukan iblis berhasil meyakinkan keduanya bawha dengan memakan buah tersebut (Khuldi), maka Adam AS dan Siti Hawa akan kekal di surga. Sehingga tepatlah kalau buah yang dimakan Adam AS dan Siti Hawa ketika itu bernama “Khuldi”. Khâlidun/khuldun, dalam bahawa Arab artinya adalah kekal/kekekalan. Kisah itu juga mengisyaratkan bahwa Adam AS dan Siti Hawa menghendaki kekekalan untuk hidup di surga. Keinginan itu adalah juga permintaan, namun kurang tepat caranya.

Adam AS dan Siti Hawa harus rela pergi meninggalkan surga. Namun, ia juga masih berdoa (meminta) kepada Allah agar diampuni kesalahan (dosanya) dan merahmatinya. Doa tersebut terekam dalam al-Quran surat al-A’râf [7] ayat 23. “Keduanya berkata: Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak Mengampuni kami dan Memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” Doa Adam AS dan Siti Hawa tersebut adalah sebuah pertaubatan dan pengharapan akan ampunan dan rahmat Allah SWT. Keduanya berdoa kehadirat-Nya agar kelak tidak menjadi golongan orang-orang yang merugi. Itulah permintaan Adam AS dan Siti Hawa.

Konsepsi Permintaan

Sebenarnya, bagaimanakah hukum meminta? Bukankah sudah maklum bahwa, keagungan dan kekuasaan Allah tidaklah terbatasi oleh apapun dan siapapun dan karenanya, manusia (makhluk) bebas meminta apa saja. Sebut apa yang “dimaui” maka Allah akan mengabulkannya. Sesederhana itukah?

Meminta sendiri, sebenarnya, adalah sebuah ekspresi ketertundukan kepada Dzat yang dimintai. Kebiasaan meminta (berdoa) menjadi (per)tanda bahwa manusia memang memiliki kecenderungan untuk kembali kepada Ilahi.

Permintaan hanya menjadi unek-unek dalam hati jika tidak diungkapkan dengan suara. Dalam shalat misalnya, disunnahkan untuk mengucapkan (melafalkan) niat dengan suara, selain tentunya niat dalam hati. Hal itu dilakukan untuk menuntun hati dan agar lebih fokus. Artinya, sebuah permintaan dalam konteks ini, harus juga diiringi (dibarengi) dengan aksi-verbal, berupa kata-kata (suara). Dengan demikian terjadi kejelasan, dan karenanya permintaan akan terkabulkan. Apalagi jika permintaan tersebut ditujukan kepada sesama manusia. Hal ini karena sampai sekarang belum ada orang yang dapat membaca perasaan dengan akurat dan ilmiah. So, perlulah kata (atau mungkin juga surat) untuk mengutarakan permintaan.

Kewenangan untuk meminta sering kali disalahgunakan. Karena memiliki otoritas akhirnya selalu menuntut tanpa pernah berfikir sudahkah kewajiban ditunaikan. Mohon maaf, misalnya banyak pejabat yang selalu menuntut fasilitas yang mewah. Padahal, menjadi tanya besar, apakah mereka sudah menunaikan kewajibannya dengan baik?

Meminta tanpa berkata, meniscayakan kualitas kerja. “Kerjakanlah tugas dengan baik sebelum menuntut!” singkatnya. Bekerja harus dilakukan dengan totalitas, yang karenanya tidak perlu memikirkan imbalan. Sebab, ketika kualitas yang dikedepankan maka, ujrah itu menjadi konsekuensi logisnya saja.

Tamsil Menarik

Saat masih menimba ilmu di Madrasah Ibtidaiyah, penulis teringat dengan ceramah salah satu ustadz  di desa. Sang kiayi membuat tamsil yang menarik. Seorang anak menginginkan sepeda motor, namun ia memilih tak mengungkapkannya di hadapan orang tuanya. Ia menunjukkan keseriusan dengan belajar lebih giat. Baktinya kepada orang tua pun ditingkatkan.

Sikap anaknya membuat orang tua berpikir sudah sepantasnya anaknya tersebut mendapatkan ‘penghargaan’ Karena orang tua melihat jarak antara rumah dan sekolah cukup jauh, sangat memungkinkan orang tua akan menghadiahi sang anak dengan sepeda motor.

Kisah di atas adalah sebuah contoh, di mana ketulusan menjadi hal penting dalam kehidupan. Dengan berbuat secara total dan konsisten serta terus menerus, maka Allah akan menjawab doa yang tidak “terkatakan”. Dalam konteks cerita di atas, Allah SWT telah mengabulkan keinginan sang anak melalui orang tuanya, dengan hadiah berupa sepeda motor.

Dan pastinya, hal ini sangat mungkin terjadi dalam kehidupan kita. Ketika kita menginginkan sesuatu (yang lebih) maka mari menunjukan kegigihan dan keseriusan. Sehingga, pada akhirnya kita akan mendapatkan sesuatu yang memang diinginkan.

Sadar Diri

Mari mengingat-ingat. Pernahkah kita berprasangka buruk dengan Sang Pencipta? Ketika keinginan kita yang terucapkan lewat doa belum juga terkabulkan, perasaan apa yang muncul ketika itu? Apakah lazim kita mengira bahwa Allah telah “lari” meninggalkan kita?

Rasanya, kita harus pandai untuk masuk ke dalam diri kita dan mencoba merasa bahwa, “Ternyata kita belum pantas untuk mendapatkan itu semua.” Setidaknya kita merasa bahwa, Tuhan jauh lebih mengerti kesiapan kita terhadap karunia-Nya. Atau bisa jadi kita belum dekat secara emosional dengan-Nya. Kedekatan kita hanya ketika berdoa alias sedang butuh saja. Sementara kewajiban kita sebagai hamba-Nya sering kali terabaikan.

Sadar diri bukanlah sekadar ekspresi pasif yang tidak termanifestasikan dalam tindakan. Sadar akan ketidakpantasan maka yang harus dilakukan adalah berusaha “memantaskan diri”. Usaha memantaskan diri inilah yang menjadikan manusia semakin giat dalam berusaha (ikhtiyâr).

Apalah arti sebuah doa jika pinta itu tidak pernah diiringi dengan usaha? Tentu menjadi sia-sia. Seandainya Allah mengabulkan pinta tanpa usaha, maka bisa jadi itu adalah istidrâj, untuk membuat sang hamba terdiam dari tangis panjang (rengekan) doanya. Dan hati manusia tiada pernah berkata bohong. Kita sebenarnya merasa lebih nyaman ketika doa yang terkabulkan itu juga berasal dari usaha keras kita.

Pinta tanpa Kata, Mungkinkah?

Allah adalah Tuhan Yang Maha Pemurah. Siapapun yang meminta kepada-Nya pasti akan dikabulkan. Jangankan manusia, iblis saja dikabulkan permintaannya oleh Allah. Artinya, manusia lebih berkesempatan untuk mendapatkan perkabulan permintaan (doa) dari Allah SWT.

Namun masih pantaskah, dengan segala kekurangan dalam menghamba, kita terus meminta lebih kepada-Nya? Sudahkah karunia yang kita terima disyukuri dengan peningkatan kualitas takwa? Tidakkah kita merasa bahwa nafas yang terus berhembus, penglihatan yang berfungsi normal, dan juga kesempatan membaca tulisan ini, adalah nikmat-Nya yang mungkin saja masih banyak saudara kita tidak mendapatkannya?

Akan menjadi bijak ketika kita terus berusaha meningkatkan kedekatan kepada Ilahi. Dengan demikian maka kita dapat menyingkap tabir penghalang antara kita dengan-Nya. Itu karena sesungguhnya kita memang dekat (qarîb) dengan Sang Pencipta. Dan yang paling utama, ketika kita berdoa untuk mendapatkan yang lebih, sudahkah kita mendahuluinya dengan memenuhi kewajiban kita sebagai hamba-Nya? Mungkin lebih indah ketika doa kita berbunyi, “Ya Allah, hamba yakin bahwa Engkau selalu memberikan yang terbaik bagi hamba.” Jika demikian halnya, masihkah perlu berkata-kata untuk meminta? Ihdinâ ash-shirâth al-mustaqîm. Wallâhu a’lamu bi ash-shawâb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s